Dua Pohon Tumbang di Pagar Air, Kendaraan Belum Bisa Melintas

Hujan angin yang mengguyur Banda Aceh dan Kawasan Aceh Besar mengakibatkan sejumlah pohon tumbang. Dua pohon Asan tumbang di Desa Lubuk Batee, Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Rabu (25/5/2016) sekitar pukul 14.15 WIB

Pemburu Harimau Masih Berkeliaran di TNGL

Pemburu harimau yang memiliki sindikat besar dipastikan masih berkeliaran di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Bila tidak segera dibekuk, kawanan penjahat ini akan memusnahkan habitat harimau Sumatera.

Balohan-Ulee Lheue Lumpuh

Angin kencang disertai hujan deras yang memicu gelombang setinggi 3 meter di perairan Aceh sejak Senin (23/5) sore hingga Selasa pagi menyebabkan transportasi laut dari Sabang ke Banda Aceh dan sebaliknya kemarin lumpuh total

Pasang Purnama Hantam Pesisir Pantai Ujong Blang

Pasang purnama saat ini menghantam pesisir pantai Ujong Blang, Lhokseumawe. Pantauan Serambinews.com, Selasa (25/5/2016) ketinggian air laut melewati batu pemecah gelombang (break water) Pantai Ujung Blang.

Rumah Rusak, Tiang Listrik Berpatahan

ANGIN kencang yang menerjang kawasan Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dan Kota Sabang sejak Senin (23/5) menyebabkan kerusakan di beberapa kawasan. Di Kota Sabang, sejumlah rumah rusak ditimpa pohon atau atapnya diterbangkan angin.

Friday, 27 May 2016

62 Persen Desa di Aceh Rentan Perubahan Iklim

BANDA ACEH - Hasil penelitian yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan, sekitar 62 persen desa-desa di Aceh rentan terhadap perubahan iklim. Karena itu, pemerintah perlu meningkatkan pemahaman masyarakat untuk menjaga lingkungan serta meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Demikian disampaikan Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr Ir Agus Justianto MSc, saat menjadi pembicara kunci pada acara Seminar Internasional, Aceh Commitment for Climate Change Impact and Challengge, yang dilaksanakan Bapedal Aceh, di Hotel Hermes, Banda Aceh, Kamis (26/5).

Agus memaparkan dampak yang dialami oleh desa-desa yang rentan perubahan iklim ini. Misalnya, desa di kawasan pegunungan yang hutannya banyak sudah ditebang, akan sering mengalami hujan di atas normal. Sedangkan jika berada di wilayah pesisir atau dekat laut, desa itu sering terkena musim kemarau yang lebih panjang, hingga membuat tanaman pertanian seperti padi menjadi fuso dan tidak bisa dipanen.

Ia menyebutkan contoh wilayah yang masuk kategori rentan perubahan iklim yang berdampak pada bencana banjir bandang, tanah longsor dan lainnya, adalah wilayah Tangse dan Geumpang (Pidie), serta Beutong Ateuh dan Singgah Mata (Nagan Raya). Daerah ini sering kali terkena bencana banjir bandang, karena populasi tanaman pohon besar di atas gunung dan perbukitannya, sudah berkurang.
Begitu juga untuk daerah perbukitan di wilayah Gayo yang sering kali terjadi tanah longsor. Hal ini disebabkan jumlah volume dan frekuensi hujan sudah berada jauh di atas normalnya.

Sedangkan contoh wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim yang bisa menyebabkan kekeringan, berada di wilayah pesisir pantai timur-utara sampai pesisir Pidie Jaya, Pidie, Aceh Besar, dan Aceh Jaya. Pada saat musim kemarau, suhu udara di daerah itu bisa mencapai di atas 35 derajat celsius atau lebih.

Masa kemarau yang panjang akan berdampak buruk bagi petani padi dan petambak udang.
Oleh karena itu, kata Agus Justianto, pemerintah perlu mengintegrasi rencana aksi adaptasi ke dalam rencana pembangunan dan implementasi di daerah, serta peningkatan kapasitas masyarakat melalui kampung iklim. “Ini sangat penting dilakukan untuk peningkatan ketahanan terhadap perubahan iklim tersebut,” ujarnya.

Sementara Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah mengatakan, apa yang dirasakan masyarakat Aceh dalam beberapa hari terakhir, merupakan bagian dari dampak pemanasan global yang telah mengakibatkan perubahan iklim secara global.

“Masa kemarau dan penghujan di Aceh sudah bergeser, tidak lagi seperti dulu, di mana musim hujan terjadi pada bulan September-Desember. Sekarang, bulan Mei sudah hujan, seperti yang terjadi dalam sepekan ini. Badai dan hujan deras melanda di sejumlah wilayah di Aceh, sehingga mengganggu aktivitas mayarakat, termasuk pelayaran ke daerah kepulauan,” ujarnya.

Namun begitu, kata Gubernur Zaini, Aceh masih memberikan peran besarnya terhadap penurunan emisi rumah kaca, karena luas areal hutannya masih sekitar 65 persen dari total luas wilayah 5,7 juta hektare. Gubernur juga menyampaikan Aceh masih membutuhkan investor untuk meningkatkan peranan dalam rangka menurunkan emisi rumah kaca.

“Misalnya dengan memprogramkan pembangunan PLTMH, PLTA, panas bumi, dan lainnya, untuk mengurangi pembangkit tenaga diesel dan batubara, yang dapat menimbulkan asap dan pemanasan global,” ujarnya.

Kepala Bapedal Aceh, Ir Iskandar MSc mengatakan, seminar internasional ini dilaksanakan untuk memberitahukan kepada masyarakat dunia, bahwa Pemerintah Aceh sangat komit untuk mengurangi pemanasan dan perubahan iklim global.

Adapun aksi nyata dan kegiatan yang dilakukan segera adalah membangun “Gampong Iklim” di sejumlah daerah, seperti di Sabang, Aceh Besar, dan Kota Banda Aceh, dengan cara melakukan penanaman tanaman hijau di wilayah terbuka. Misalnya di daerah pesisir pantai menanam pohon bakau, pinus laut, kelapa, dan lainnya.
 
sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/05/27/62-persen-desa-di-aceh-rentan-perubahan-iklim?page=1

Disperindagkop Pidie Jaya Gelar Pasar Murah

Disperindagkop Pidie Jaya Gelar Pasar Murah

MEUREUDU - Menyambut bulan Ramnadhan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disprerindagkop) Pidie Jaya, ‎menggelar pasar murah mulai 30 Mei hingga 3 Juni yang disebarkan di delapan pusat keramaian masyarakat.
 
Kepala Disperindagkop Pidie Jaya, Dra Cut Aminah MPd kepada Serambinews.com, Jumat (27/5/2016) mengatakan, menyambut bulan suci Ramadhan 1437 H, pihak Dinas turut menggelar pasar murah untuk sembilan jenis barang.
 
"Kesembilan jenis barang yang masuk dalam pasar murah tersebut berupa gula pasir, minyak goreng, tepung terigu, tepung tapioka, beras, telur, sirup kurnia, sirup pohon pinang, dan sirub 66," jelas Cut Aminah.
 
Semuan jenis barang yang masuk kedalam agenda pasar murah tersebut, sebagaimana kesepakatan untuk semuanya disubsidi Rp 2.500 perl Kilo atau perliter. 



sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/05/27/disperindagkop-pidie-jaya-gelar-pasar-murah

Puluhan Hektare Padi Siap Panen di Susoh Terendam Air Pasang

Puluhan Hektare Padi Siap Panen di Susoh Terendam Air Pasang 

 BLANGPIDIE - Puluhan hektare areal sawah di Desa Rubek Meupayong, Padang Panjang dan sebagian tanaman padi di Desa Ladang, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), tergenang air pasang.
 
Keuchik Robek Meupayong, Tgk Jasidar kepada Serambinews.com, Jumat (27/5/2016) menjelaskan, peristiwa air pasang merendam tanaman padi sedang panen akibat tersumbat mulut Kuala Rubek Meupayong dan mulut Kuala Sangkalan di Desa Padang Panjang.
 
Kedua mulut kuala tersebut tersumbat akibat tertimbun pasir yang dihempas ombak besar selama musim barat beberapa hari belakangan. 
 
Peristiwa tertutup mulut kuala, sehingga air tidak bisa mengalir ke laut sehingga air pasang, kemudian merendam areal tanaman padi sedang dipanen di wilayah tiga desa/gampong.

Thursday, 26 May 2016

Dampak Badai Meluas

Dampak Badai Meluas

BANDA ACEH - Dampak angin kencang (badai) yang menerjang sejumlah wilayah Aceh sejak tiga hari terakhir dilaporkan meluas. Selain merusak rumah dan infrastruktur publik juga memacetkan transportasi laut termasuk terganggunya jaringan listrik. Bahkan stok kebutuhan pokok untuk warga Kabupaten Simeulue semakin menipis.

Dari Meulaboh dilaporkan, tanggul di Desa Pasir, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat jebol dihantam pasang laut selama dua pekan terakhir sudah mencapai 315 meter. Ratusan meter lainnya terancam karena pasang purnama masih terus mengganas dan meluas ke Suak Indrapuri dan Ujong Kalak.

Amatan Serambi, Rabu kemarin, dua alat berat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat dikerahkan ke Desa Pasir dan Suak Indrapuri untuk membersihkan tanah pasir yang menumpuk dibawa pasang di Jalan Diponegoro, Meulaboh. Warga juga ikut bekerja memasukkan tanah ke goni untuk dijejer di pinggir pantai.

Keuchik Desa Pasir, Romi Saputra Jaya mengatakan, fasilitas publik yang hancur selain tanggul penahan pasir sepanjang 315 meter, juga jalan lingkar 175 meter dan jalan lingkar lainnya sepanjang 250 meter juga tertimbun pasir, dan 2 tiang lampu pantai tumbang.

Selain tanggul jebol dan jalan rusak, puluhan rumah yang dibangun NGO di desanya juga hancur. “Laporan kerusakan sudah kita sampaikan ke BPBD Aceh Barat,” kata Romi.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Saiful AB mengatakan, untuk menangani tanggul jebol di Desa Pasir dibutuhkan dana Rp 4 miliar dan sudah diusulkan ke Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Sedangkan untuk penanganan darurat sudah dikerahkan alat berat selain ke Desa Pasir dan Suak Indrapuri juga ke Tugu Teuku Umar yang ambruk beberapa hari lalu,” kata Saiful.

Aceh Tawarkan Objek Wisata Delapan Kabupaten

Aceh Tawarkan Objek Wisata Delapan Kabupaten 

JAKARTA - Aceh tawarkan objek wisata di delapan kabupaten dalam pameran Gebyar Wisata dan Budaya Nusantara 2016, di Jakarta Covention Centre (JCC), Jakarta, Kamis (26/5/2016) sore.

Pameran yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata itu berlangsung sampai 29 Mei 2016. Ini merupakan pameran yang ke -14, dengan tema "Indahnya Pesona Alam Indonesia."

Objek wisata delapan kabupaten yang ditawarkan meliputi Banda Aceh, Sabang, Aceh Besar, Aceh Selatan, Singkil, Aceh Tengah, Simeulue dan Pidie.

sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/05/26/aceh-tawarkan-objek-wisata-delapan-kabupaten

Zikir Getarkan Hati Jamaah Lhokseumawe

Zikir Getarkan Hati Jamaah Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE - Zikir akbar yang melibatkan hampir seribuan jamaah menggetarkan hati warga yang hadir pada acara zikir yang berlangsung di Masjid Agung Islamic Center, Lhokseumawe, Kamis (26/5/2016) malam.

Kegiatan Zikir itu menjadi agenda rutin yang diadakan setiap tahunnya oleh pengurus Islamic Center, karena menyambut bulan Ramadhan.

Pantauan Serambinews.com, jamaah zikir yang hadir selain dari Lhokseumawe juga ada dari kabupaten/kota lain di Aceh sudah memadatii masjid sejak pukul 19.30 WIB. Ibu-ibu yang hadir rata-rata mengenakan busana muslim berwarna-warni tampak duduk bersilah dengan rapih dan tertib dibarisan masing-masing saf.

Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya  hadir ditengah tengah bersama jamaah zikir lainnya. Tampak juga Danrem 011 Lilawangsa, Kol Inf Dedy Agus Purwanto.
Zikir akbar kali ini dipimpin oleh Tgk H Jamaluddin Mauliddin Rasyid (Pimpinan Majlis Zikir Rabithah Al-Waaliyyah Aceh).

Sebelum melaksanakan zikir terlebih dahulu memberikan pengarahan kepada seluruh jamaah yang hadir dan Shalawat Badar. 

Hujan Es Guyur Lhoksukon

Hujan Es Guyur Lhoksukon

LHOKSUKON – Warga Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, geger oleh hujan es selama tiga menit lebih yang terjadi bersamaan dengan guyuran hujan deras di kawasan itu, Rabu (25/5) pukul 14.30 WIB.

“Saya sempat mendengar suara keras di atap warung kopi saat sedang berjualan. Lalu, saya lihat di atas kaca depan mobil yang parkir di depan warkop ada butiran es. Namun, saya tak berani mengambilnya karena saat itu sedang hujan deras disertai petir,” ujar Anis (20), warga Lhoksukon kepada Serambi kemarin.

Sulaiman (37), petugas parkir di sebuah warung kopi (warkop) di Lhoksukon asal Matangkuli kepada Serambi mengaku sempat melihat dengan jelas butiran es sebesar biji jagung jatuh ke atas kaca mobil yang sedang diparkir di depan sebuah warung kopi. “Ketika seorang warga mengambil gelas dalam warung kopi untuk menaruh es tersebut, esnya mencair menjadi air,” ujar Sulaiman.

Muhamadar (33), petugas kebersihan di Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon malah mengaku sempat mendengar suara hantaman benda keras dari atap seng teras mesjid. “Suaranya seperti batu menimpa seng, tapi dalam waktu yang tak lama. Kemungkinan itu hujan es, tapi saat itu saya tak berani ke luar masjid, karena sedang petir,” ujar Muhammad.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Wawan Setiawan melalui Kapolres Lhoksukon AKP Hendra Gunawan Tanjong menyebutkan, hujan es yang mengguyur itu ukuran satuannya sebesar batu kerikil. Lamanya sekitar tiga menit, diikuti petir dan suara guntur. Lalu, hujan es tersebut berubah kembali menjadi hujan air seperti biasa.

“Desa yang terpantau dilanda hujan es adalah Dusun Kampung Baru, Desa Meuasah Pante, Desa Meunasah, Desa Meunasah Trieng dan Desa Blang. Namun, tak ada dampak dari peristiwa itu, tak ada kerusakan dan kerugian yang dialami warga,” ujar Kapolsek Lhoksukon.

Menurutnya, hujan langka untuk daerah tropis itu berlangsung lebih dari tiga menit di kawasan Desa Keude Lhoksukon, Desa Meunasah Dayah, dan kawasan Landing. Sedangkan hujan deras mengguyur Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe sejak pukul 14.30-15.30 WIB.
 
Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lhokseumawe, Nursyamsi M Alfian kepada Serambi menyebutkan, pihaknya belum memiliki alat untuk mendeteksi penyebab terjadinya hujan es di kawasan tropis seperti Aceh Utara. Namun, menurutnya, jika terjadi hujan es itu termasuk fenomena cuaca ekstrem. “Tapi kami belum dapat informasinya,” kata Nursyamsi.
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html